Terlalu sering, saat ini kita diperhadapkan pada lembaga-lembaga keuangan yang berganti badan usaha atau menggabungkan diri menjadi satu. Namun, apakah kita pernah tau, apakah yang sebenarnya dihadapi oleh lembaga-lembaga tersebut?

Permasalahan yang pertama biasanya dialaskan pada masalah kesehatan lembaga tersebut. Misalnya, ketika suatu lembaga sudah dinyatakan berada dalam tingkat kesehatan tertentu oleh Bank Indonesia, bahkan terus menerus dinyatakan dalam status tersebut; Maka, seringkali tidaklama kemudian lembaga tersebut diakuisisi atau digabungkan dengan lembaga keuangan lainnya.

Hal lain yang mungkin saja sedang dihadapi oleh bank atau lembaga keuangan ketika terjadi penggabungan adalah sebagai wujud pembaharuan dari segi konstruksi permodalan. Hal ini bukan berarti terdapat masalah dalam hal kepemilikan, hanya si pemilik memiliki keinginan agar instansi yang dimiliki tersebut memiliki perluasan kapasitas atau lebih tepatnya lebih lagi mendatangkan keuntungan kepada pemiliknya.

Lebih lanjut lagi, alasan yang seringkali menjadi dasar terjadinya merger, akuisisi atau konsolidasi suatu lembaga keuangan adalah permasalahan yang terjadi pada kondisi administrasi suatu lembaga, yang tidak mungkin ditangani dan/atau diselesaikan dengan sumber daya eksisting yang dimiliki. Sehingga jika dibiarkan dapat menyebabkan kemerosotan bagi instansi tersebut, baik dari aspek keuangan maupun kepercayaan public terhadap lembaga tersebut.

Namun apakah merger akuisisi dan konsolidasi itu sendiri?

Merger atau sebagaimana diistilahkan pula sebagai “penggabungan” dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh suatu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. Contoh merger yang pernah terjadi dalam dunia perbankan adalah bagaimana Lippo Bank digabungkan dengan Niaga sehingga kini kita kenal dengan Bank CIMB Niaga.

Sedangkan “peleburan” atau dikenal dengan istilah konsolidasi adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang meleburkan diri dan status badan hukum Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum. Hal sedemikian sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Adapun contoh konsolidasi yang pernah terjadi adalah peleburan Bank Bumi Daya, Bank BDN, Bank Bapindo dan Bank Exim, sehingga kini kita kenal dengan Bank Mandiri. Hal sedemikian sebagaimana terjadi pada pembentukan Bank Mandiri di tahun 1998.

Lebih lanjut lagi, Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pada Pasal 1 angka 11 mendefinisikan akuisisi atau “pengambilalihan” sebagai  perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.

 

Ditulis Oleh : Anastasia Nathania Harjono